Jakarta, CNBC Indonesia – Menjelang ajal menjemput, berbagai warga mulai merenungkan kembali perjalanan hidup mereka. Saat itulah, bervariasi penyesalan lalu harapan yang dimaksud belum terwujud muncul ke permukaan.
Bronnie Ware, orang mantan perawat paliatif selama Australia, menghabiskan delapan tahun merawat pasien dengan kondisi kritis. Selama itu, ia kerap mendengar kisah menyentuh dari pasien-pasien yang dimaksud tahu bahwa waktu dia dalam bumi tinggal sedikit.
Pengalamannya itu ia tuangkan di buku berjudul The Top Five Regrets of the Dying. Di dalamnya, Bronnie mengungkapkan bahwa sejumlah khalayak merasa hidup dia terlalu sejumlah diatur oleh harapan pendatang lain-orang tua, pasangan, bahkan lingkungan-hingga lupa mewujudkan impian sendiri.
“Saat warga sadar hidup mereka itu akan segera berakhir, merek sanggup meninjau dengan jelas begitu sejumlah impian yang dimaksud tak pernah dijalani,” tulis Bronnie.
Berikut lima penyesalan paling rutin diungkapkan oleh pasien yang dimaksud dirawat Bronnie Ware:
-
“Saya berharap punya keberanian untuk menjalani hidup yang mana sesuai dengan keinginan saya, bukanlah seperti yang digunakan diharapkan pendatang lain.”
Banyak penduduk menjalani hidup demi menyenangkan pendatang lain, bukanlah demi kebahagiaan diri sendiri. -
“Saya berharap bukan terlalu sibuk bekerja.”
Bekerja tanpa henti banyak menciptakan warga kehilangan waktu berharga sama-sama keluarga juga khalayak tercinta. -
“Saya berharap berani mengungkapkan perasaan saya.”
Ketakutan akan penolakan kerap kali menimbulkan seseorang memendam emosi kemudian rasa cinta terlalu lama. -
“Saya berharap permanen menjalin hubungan dengan teman-teman.”
Seiring waktu, berbagai warga kehilangan koneksi dengan sahabat lama akibat terlalu sibuk dengan rutinitas. -
“Saya berharap membiarkan diri saya lebih besar bahagia.”
Terlalu sejumlah khalayak menahan diri dari kebahagiaan lantaran rasa bersalah, beban pikiran, atau standar yang digunakan dibuat sendiri.
Terlalu Sibuk Bekerja, Salah Satu Penyesalan Terbesar
Penyesalan dikarenakan terlalu fokus bekerja ternyata bukanlah hal yang jarang. Survei yang dimaksud direalisasikan Harris Poll terhadap 1.170 pekerja pada Amerika Serikat menunjukkan bahwa 78% pekerja mengorbankan waktu liburan untuk pekerjaan. Ini adalah menunjukkan betapa dominannya pekerjaan di keberadaan berbagai orang, bahkan sampai mengorbankan waktu istirahat.
Kondisi seperti ini tak cuma berdampak pada waktu pribadi, tetapi juga bisa jadi membinasakan kesegaran mental lalu hubungan sosial.
Pendiri Microsoft, Bill Gates, pernah mengaku bahwa di masa mudanya, ia tak percaya pada waktu libur atau akhir pekan. Semua waktunya diluangkan untuk bekerja. Namun pasca berubah menjadi seseorang ayah, ia mulai menyadari pentingnya keseimbangan hidup.
“Luangkan waktu untuk membina hubungan. Rayakan pencapaian Anda. Pulihlah pada waktu mengalami kegagalan. Istirahatlah ketika dibutuhkan, lalu ada untuk pendatang lain ketika mereka membutuhkan Anda,” kata Gates di pidato wisuda ke Northern Arizona University.
Next Article Tragis! Pria India Meninggal Usai Telan Anak Ayam Hidup-Hidup
Artikel ini disadur dari 5 Penyesalan Terbesar Manusia Jelang Ajal











